KEBUMEN, Times7.id,- Bekerja sebagai pedagang bukanlah perkara yang mudah. Hasil yang diperoleh tidak selalu sama setiap harinya. Ada waktu ramai pembeli, ada pula hari-hari sepi. Namun bagi Pak Misdi, pekerjaan itu adalah jalan utama untuk menafkahi istri dan anaknya yang saat ini masih duduk di bangku kuliah. Di tengah segala keterbatasan, satu hal yang selalu ia pastikan adalah memastikan keluarganya tetap sehat dan terlindungi.
“Saya yakin semua orang pengennya tetap sehat. Tapi yang namanya sakit bisa datang tiba-tiba meskipun kita sudah berusaha untuk hidup sehat dengan rutin berolahraga serta makan makanan sehat. Selain itu, saya mulai berpikir kalau keluarga kami juga butuh jaminan kesehatan,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Menurut Misdi, bukan perkara sulit untuk menemukan jaminan kesehatan yang berkualitas. Pemerintah Indonesia telah menghadirkan Program Jaminan Kesehatan Nasinal (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. Tanpa ragu, ia pun memutuskan untuk mendaftarkan keluarganya menjadi peserta JKN segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau sering disebut sebagai peserta mandiri.
“Tadi saya daftarkan seluruhnya, termasuk istri dan satu anak saya menjadi peserta mandiri kelas 3. Selain iurannya yang murah, hampir seluruh penyakit dijamin oleh JKN. Tidak ada screening awal pas mau daftar, mau sehat atau sudah sakit pun bisa daftar JKN,” ungkapnya di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Kebumen, pada Selasa (16/07).
Meski kini resmi terdaftar sebagai peserta JKN bersama keluarganya, Misdi memiliki harapan yang sederhana, namun tulus. Baginya, menjadi peserta JKN bukan hanya soal perlindungan diri dan keluarga semata. Ia memahami bahwa dengan membayar iuran setiap bulan, ia juga sedang ikut membantu dan menolong terhadap sesama.
“Saya sebenarnya berharap, JKN ini tidak perlu kami pakai. Bukan karena nggak butuh, tapi karena saya ingin anak istri saya selalu sehat. Saya harap iuran yang nantinya saya bayarkan tiap bulan, insyaallah bisa membantu orang lain yang sedang sakit dan butuh pengobatan. Itu merupakan salah satu bentuk gotong royong dan saling membantu sesama,” katanya dengan nada penuh keyakinan.
Ia juga menceritakan, awalnya ia merasa ragu dan tidak yakin saat hendak mendaftar JKN. Ia pikir, mengurus administrasi ke BPJS Kesehatan pasti ribet dan antrinya lama, apalagi dirinya tidak terlalu paham urusan birokrasi. Namun, semua kekhawatirannya tersebut terbukti tidak berdasar.
“Saya sampai kaget. Masuk ke kantor, langsung disambut petugas dengan senyum ramah. Saya ditanya keperluannya, lalu diarahkan. Semuanya jelas dan mudah dipahami.Layanannya pun sangat cepat dan tidak ada antrian memanjang,” terangnya.
Misdi juga mengungkapkan bahwa saat ini BPJS Kesehatan juga menyediakan layanan administrasi melalui kanal layanan non tatap muka. Ia mendapatkan informasi dari petugas, masyarakat dapat mengakses layanan administrasi tanpa perlu datang ke kantor BPJS Kesehatan. Masyarakat dapat memilih memanfaatkan layanan digital, diantaranya melalui Pelayanan Administrasi Melalui Whatsapp (PANDAWA) di nomor 08118165165, Aplikasi Mobile JKN atau Care Center 165.
“Iya baru tahu tadi, kalau ternyata ada layanan digital juga yang disediakan BPJS Kesehatan. Tapi namanya orang di desa ya mas, kami belum update sama informasi seperti itu. Untuk kedepan, kami coba pakai Aplikasi Mobile JKN yang sudah saya unduh dan registrasikan tadi, dibantu sama mas-mas petugas,” ungkap Misdi.
Terakhir Misdi mengatakan bahwa Program JKN bukan sekedar layanan kesehatan. Ia adalah jembatan harapan bagi keluarga kecilnya. Sebuah perlindungan yang nyata, yang membuatnya merasa dihargai sebagai warga negara. Dan yang paling penting, membuatnya yakin bahwa kesehatan memang adalah hak semua orang termasuk dirinya.(*)