Kebumen, Times7.id,– Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang telah bergulir lebih dari satu dekade, telah menjadi andalan masyarakat di Indonesia untuk mengakses pelayanan kesehatan. Tak terkecuali bagi Suwati (49) warga Desa Pohkumbang, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen.
Suwati bersama suami dan satu orang anak perempuannya telah terdaftar sebagai peserta mandiri kelas 3 sejak satu tahun yang lalu. Sebelumnya, ia sama sekali tidak pernah menyangka, Program JKN akan menjadi penolong keluarganya dalam mengakses pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan.
“Setahun lalu, kami sekeluarga memutuskan mendaftar sebagai peserta JKN. Waktu itu tidak ada pikiran dan keinginan mau pakai. Tapi ternyata Allah berkehendak lain karena saya dan suami membutuhkan pengobatan,” kenang Suwati sambil tersenyum.
Suwati menceritakan bahwa beberapa bulan setelah terdaftar, Suwati mengalami gangguan menstruasi yang membuatnya cukup cemas. Selain nyeri di bagian perut, ia juga merasa badannya lemas. Waktu itu ia belum cukup berani untuk langsung memeriksakannya ke dokter.
“Rasanya tidak biasa dan cukup mengganggu. Nyerinya juga bikin saya susah untuk beraktivitas sehari-harinya,” cerita Suwati di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Kebumen pada Rabu (13/08).
Suwati melanjutkan ceritanya, tak berselang lama dari sakit yang dialaminya, sang suami pun tiba-tiba jatuh sakit. Suaminya mengeluhkan sakit di bagian pinggang dan juga merasakan pusing yang luar biasa hebat. Suwati telah berupaya untuk mengkonsumsi obat yang ia beli di apotek, namun tidak ada perubahan yang berarti. Setelah itu, ia pun nekat memutuskan untuk memeriksakan dirinya dan suami ke Puskesmas.
“Setelah diperiksa dokter di Puskesmas, kami pun dirujuk ke RS PKU Muhammadiyah Gombong karena butuh pemeriksaan lanjutan. Waktu itu, dokter di RS mengatakan kalau suami menderita polip hidung dan ada infeksi pada ginjal. Kami pun harus menjalani pengobatan rutin rawat jalan di rumah sakit” kenangnya.
Suwati mengaku khawatir dan tubuhnya terasa lemas setelah mendengar informasi dari dokter yang memeriksanya. Pikirannya pun langsung kemana-mana termasuk soal biaya pengobatannya. Menurut Suwati, meskipun hanya rawat jalan, namun intensitasnya cukup sering sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Ya tentu khawatir ya, soal keselamatan dan juga biaya karena saya juga harus menjalani pengobatan di dokter spesialis obgyn pada waktu yang hampir bersamaan. Sempat disarankan juga untuk menjalani operasi, tapi kami memutuskan untuk observasi dulu saja,” ungkapnya.
Kekhawatiran Suwati pun sedikit demi sedikit luruh saat Suwati mengetahui dapat memanfaatkan JKN untuk pengobatan dirinya dan suaminya. Ia pun mengaku tenang menjalani pengobatan tanpa khawatir menanggung biaya di rumah sakit yang tidaklah sedikit. Setelah menjalani beberapa kali rawat jalan, kondisi dirinya dan sang suami pun kian membaik.
“Alhamdulillah, setelah menjalani beberapa kali rawat jalan, sekarang suami dan saya telah membaik. Kalau harus bayar semua biaya itu sendiri, entah dari mana uangnya,” kata Suwati dengan lirih.
Suwati mengaku semua pelayanan yang ia rasakan dengan memanfaatkan JKN, menurutnya, sama seperti pasien lain. Ia merasa nyaman dan dihargai, tanpa stigma atau diskriminasi sebagai pasien JKN. Seluruh petugas juga memberikan pelayanan dengan ramah, mulai dari tenaga medis sampai dengan tenaga administrasinya.
“Tidak ada bedanya, kami semua diperlakukan sama, meskipun saya peserta JKN kelas 3. Jadi jangan khawatir berobat menggunakan JKN,” tuturnya.
Suwati pun mengingatkan pentingnya terdaftar aktif sebagai Peserta Program JKN. Baginya, JKN bukan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban yang diperintahkan undang-undang saja, melainkan menjadi penjaga dan pelindung keluarganya dari risiko biaya pelayanan kesehatan.
“JKN itu penting, apalagi untuk orang seperti kami. Tidak semua orang punya uang cadangan untuk biaya berobat sewaktu-waktu,” ujarnya pelan.(*)