KEBUMEN, Times7.id,– Desa Sidobunder, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, resmi mengabadikan nama pejuang nasional Herman Fernandez sebagai nama jalan desa sepanjang dua kilometer. Peresmian dilakukan bertepatan dengan malam tirakatan menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia di Balai Desa Sidobunder, Minggu (16/8/2026).

Penamaan jalan tersebut merupakan hasil musyawarah pemerintah desa bersama lembaga desa, ketua RT/RW, tokoh masyarakat, dan tokoh agama sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa Herman Fernandez yang gugur dalam Palagan Sidobunder pada 1947.

Jalan Herman Fernandez berada di sebelah barat Balai Desa Sidobunder dan menjadi akses penghubung antara Dukuh Bangbunder Selatan serta Banasari Selatan menuju Dukuh Bangbunder Utara dan Banasari Utara.
Kepala Desa Sidobunder, Sarno, mengatakan penamaan jalan ini bukan sekadar memberikan identitas, tetapi menjadi pengingat sejarah perjuangan bagi generasi muda.

“Herman Fernandez adalah pejuang yang gugur di Palagan Sidobunder. Harapan kami, masyarakat selalu mengenang jasa beliau. Jalan ini akan menjadi simbol perjuangan yang dikenang sepanjang masa selama NKRI masih berdiri,” ujar Sarno.

Rangkaian peresmian tidak hanya diisi dengan penandatanganan prasasti, tetapi juga tabur bunga di Tugu Sidobunder sebagai penghormatan kepada para pejuang yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda.
Palagan Sidobunder merupakan salah satu pertempuran penting yang terjadi pada 2 September 1947. Saat itu, pasukan Tentara Pelajar (TP) berusaha menahan laju Agresi Militer Belanda I agar tidak menembus Yogyakarta yang menjadi ibu kota Republik Indonesia.

Herman Yoseph Fernandez, yang lahir pada 3 Juni 1925, menjadi salah satu tokoh muda yang gugur dalam pertempuran tersebut.

Keponakan kandung Herman Fernandez, Grace Siahaan Njo, hadir dalam acara peresmian dan menyampaikan rasa haru sekaligus bangga atas penghargaan yang diberikan masyarakat Sidobunder.
Menurutnya, selama ini nama Herman Fernandez telah diabadikan di sejumlah fasilitas umum di Flores, seperti jalan di Larantuka, taman kanak-kanak di Pulau Adonara, hingga monumen di Selasar Bung Karno, Ende.

“Bagi keluarga, ini sebuah kehormatan besar karena nama paman kami kini diabadikan bukan hanya di tanah kelahirannya, tetapi juga di tempat beliau berjuang dan mengorbankan hidupnya untuk Indonesia,” katanya.

Grace menceritakan, Herman Fernandez merupakan putra pasangan asal Larantuka yang lahir di Ende ketika kedua orang tuanya bertugas sebagai guru. Pada 1942 ia berangkat ke Muntilan untuk menempuh pendidikan, namun sekolah Van Lith ditutup saat pendudukan Jepang.

Ia kemudian sempat menjadi romusha di tambang Bayah, Banten, sebelum kembali ke Yogyakarta usai Proklamasi Kemerdekaan dan bergabung dengan organisasi pemuda pelajar. Ketika Agresi Militer Belanda I pecah, Herman dikirim ke Sidobunder untuk mempertahankan jalur menuju Yogyakarta.

“Semoga penamaan jalan ini bukan sekadar nama, tetapi menjadi refleksi bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini lahir dari pengorbanan para pahlawan, bukan datang begitu saja,” tuturnya.

Dengan diresmikannya Jalan Herman Fernandez, Desa Sidobunder berharap sejarah Palagan Sidobunder terus hidup di tengah masyarakat dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk menghargai perjuangan para pahlawan bangsa.

By times7

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *